Idola Penggemar: Angelo Peruzzi, Ksatria di Antara Dua Dewa

Serie A – Kiper adalah bagian besar dari sejarah Juventus. Dan jika Anda bertanya kepada seseorang yang bukan Juventini untuk menyebut kiper Juventus, respons yang mungkin akan Anda dapatkan adalah Gianluigi Buffon. Gali lebih dalam, atau bicarakan dengan seseorang dengan usia tertentu, dan Anda mungkin mendengar nama Dino Zoff. Jarang untuk menyebut nama Angelo Peruzzi.

Buffon dan Zoff adalah legenda. Tapi untuk semua kejayaan mereka, tak satu pun dari mereka memenangkan gelar Eropa. Keduanya memenangkan Piala UEFA, pendahulu Liga Europa. Tetapi tidak ada yang memegang piala Liga Champions. Buffon bisa saja melakukannya, jika Juve berhasil memenangkan kompetisi sebellum masa pensiunnya. Dan diantara mereka, Peruzzi menjadi salah satu pria yang terperangkap di antara kedua legenda itu.

Angelo Peruzzi, Pemain Nomor 1 Juve di Masanya

Peruzzi menandatangani kontrak dengan Juve pada musim panas tahun 1991. Dia menjadi pelapis Stefano Tacconi, yang menggantikan Zoff. Pada tahun 1992, Tacconi pindah ke Genoa dan Peruzzi mengambil alih sebagai starter. Peruzzi kemudian menghabiskan tujuh musim berikutnya sebagai pemain nomor 1 Juve, menghasilkan reputasi sebagai salah satu kiper terbaik di dunia.

Lebih pendek dan lebih kekar dari penjaga gawang lainnya, Peruzzi harus membuat beberapa pengorbanan dalam permainannya. Secara khusus, dia tidak pernah bisa memerintahkan area penalti seperti yang kita lihat Buffon lakukan selama bertahun-tahun. Ketika crossing, dia akan sangat sering meninju itu daripada menangkapnya. Dia juga penghenti penalti yang sangat baik.

Peruzzi dan Liga Champions

Juve masuk ke final Liga Champions musim 1995/1996 sebagai underdog melawan tim Ajax yang bertenaga tinggi yang telah mengalahkan AC Milan tahun sebelumnya. Tetapi Marcello Lippi menekan keras dan mendapatkan keunggulan 1-0. Peruzzi melakukan level terbaiknya untuk bertahan. Dia berlari kembali ke barisannya untuk menahan sundulan Nwankwo Kanu, setelah bola kedua dari sudut. Tetapi tendangan bebas Jari Litmanen menyamakan kedudukan.

Itu tetap 1-1 melalui perpanjangan waktu, menyiapkan adu penalti untuk menentukan juara. Edgar Davids muda melangkah lebih dulu. Mencoba menipu Peruzzi dan menempatkan bola di tengah. Dengan Juve memimpin adu penalti 3-2, Peruzzi menghadapi Sonny Silooy. Peruzzi tidak pernah tertipu dan menepis tembakan ke kiri. Itu meninggalkan Vladimir Jugovic untuk melewati Edwin van der Sar dan memberi Juve gelar pertama mereka yang benar-benar bisa mereka rayakan. Selama delapan tahun di Turin, Peruzzi menambahkan Piala UEFA, Coppa Italia, dan tiga Scudetto, serta Piala Super UEFA dan Piala Intercontinental.

Dan di puncak karirnya di Juve, dia adalah salah satu, jika bukan kiper terbaik di dunia yang dimiliki Bianconeri. Namun, terjebak di antara dua dewa penjaga gawang terbaik yang pernah dimiliki Juventus.