Bruno Fernandes Tunjukkan Karakter Kapten, Marahi Rekan Setim dan Salahkan Solskjaer

Jurnal Bola – Tidak jelas apakah ini berita bagus atau berita jelek untuk Manchester United. Bruno Fernandes menunjukkan ia lebih layak menjadi kapten Setan Merah ketimbang Harry Maguire yang hanya bengong sambil menekuk tangan di kedua pinggangnya dalam kekalahan 4 Oktober lalu di Old Trafford.

Playmaker Portugal yang baru datang pada Januari 2020 itu lebih menunjukkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawabnya daripada Maguire, dengan ia dilaporkan mengecam rekan setimnya lantaran tidak bermain selayaknya pemain berseragam The Red Devils.

Gelandang 26 tahun jago tendangan bebas dan penalti tersebut juga berani mempertanyakan taktik Ole Gunnar Solskjaer selama babak pertama dalam kekalahan 1-6 di tangan Tottenham Hotspur pekan lalu.

Juara 13 kali Liga Inggris itu mengalami kekalahan kandang kedua mereka hanya dari tiga laga perdana musim ini saat pasukan Jose Mourinho menghancurkan 10 pemain mantan timnya dengan skor yang sama persis seperti Manchester City memberi kekalahan terbesar pada Oktober 2011.

Berita Bola Terbaru:

Advertisement

Pasukan Ole Gunnar Solskjaer bahkan tertinggal 4-1 saat turun minum dan juga bermain dengan 10 pemain menyusul kartu merah kontroversial Anthony Martial. Bruno Fernandes, sementara itu, mencetak gol penalti untuk sempat membawa Setan Merah unggul lebih dulu, tetapi kemudian ditarik pada babak pertama demi memasukkan Fred dan Scott McTominay.

Menurut Mirror, gelandang eks Sporting CP sangat marah usai ditarik keluar, mempertanyakan karakter rekan setimnya di Manchester United dalam penampilan yang sangat menyedihkan selama 45 menit pertama. Laporan tersebut juga mengklaim bahwa Bruno Fernandes tidak senang dengan taktik Manchester United yang diterapkan Solskjaer.

“Dia (Bruno Fernandes) sangat marah dan berapi-api ketika dia berlari menyusuri terowongan,” kata sumber di dalam Manchester United kepada Sunday Mirror. “Dia menyalahkan rekan satu timnya, menuduh mereka tidak menjunjung tinggi nama besar dan kebanggaan Manchester United.”

“Dia terus berteriak, ‘Kita seharusnya menjadi Manchester United. Ini seharusnya tidak terjadi’. Jelas bahwa Solskjaer juga mendapat kecaman karena dia memilih taktik yang salah.”

Liga Inggris