Idola Penggemar: Andrea Pirlo, Sang Metronome

Italia – Gaya permainannya yang mengalir bebas membedakannya dari hampir semua orang lain di dunia. Andrea Pirlo, dan ekspresinya yang tenang di lapangan, telah memperdaya lawan di seluruh Eropa dan dunia selama 18 tahun terakhir. Pirlo telah membuat “rumah” di tengah lapangan, berjalan-jalan dengan mudah seolah-olah pergi untuk jogging ringan. Mencari ruang di mana rekannya berada. Mengambil bola, berikan kepada rekan setimnya, rekan setimnya mencetak skor. Itu disebut bantuan, dan inilah caranya menyebarkan kebahagiaan. Inilah Andrea Pirlo, sang metronome.

Dilahirkan pada 19 Mei 1979 di Brescia, Italia. Pirlo kemudian tumbuh di Voluntas dan kemudian masuk tim muda Brescia. Melakukan debut pada usia 16 tahun, dengan Little Swallows sudah terdegradasi, Pirlo menjadi pemain termuda dalam sejarah klub untuk bermain di divisi utama. Setelah memenangkan Piala Viareggio pada tahun 1996, Pirlo mendapatkan kepercayaan manajer Edi Reja di tim utama. Ia mencetak dua gol dalam 17 pertandingan selama klub bangkit kembali untuk promosi. Tahun berikutnya Pirlo menjadi starter tetap, mencetak empat gol dalam 29 pertandingan sebagai gelandang serang. Dan bakatnya yang luar biasa pada umur 19 tahun, membuat Inter Milan memboyongnya.

Namun, Pirlo berjuang di Nerazzurri. Hanya berdampak kecil di liga dan Liga Champions. Karena alasan inilah Pirlo dipinjamkan dua kali antara 1999 dan 2001. Adalah masa pinjaman kedua, di Brescia, yang benar-benar mengubah kariernya. Carlo Mazzone, manajer klub pada saat itu, memutuskan untuk mengubah posisi Pirlo dari Trequartista dan striker kedua, menjadi Regista atau playmaker murni. Dan itu adalah keputusan yang membantu mendefinisikannya sebagai pemain sepak bola hingga hari ini.

Andrea Pirlo dan Status Legenda Italia

Pirlo mendapat transfer ke AC Milan pada musim panas 2001. Musim pertamanya tidak mudah, tetapi sejak 2002, bocah dari Brescia dengan cepat menjadi pemimpin. Ia akhirnya diberikan serangkaian permainan di jantung lini tengah dan mampu menemukan performa awal yang konsisten. Di bawah asuhan Carlo Ancelotti, Pirlo menetap di perannya sebagai playmaker, menyelesaikan lini tengah bintang bersama Rui Costa, Gattuso dan Seedorf. Hasilnya? Musim 2002/03, AC Milan memenangkan Liga Champions.

Kemajuan Pirlo juga membuatnya dipanggil ke tim nasional Italia pada 7 September 2002. Di Olimpiade 2004 di Athena, ia memenangkan medali perunggu. Pada musim panas 2006, Pirlo mencapai status yang benar-benar legendaris. Dia memimpin Italia untuk memenangkan Piala Dunia dan dianugerahi Man of the Match dalam pertandingan Italia melawan Ghana, Jerman dan Prancis.

Liga Champions Kedua

Tahun berikutnya Pirlo memenangkan Liga Champions keduanya bersama pemenang Ballon d’Or, Kaka. Kemenangan itu sangat penting karena Milan membalas dendam pada Liverpool setelah final bersejarah 2005 di Istanbul. Karier Pirlo di Milan berlangsung hingga 2011, ketika ia pergi untuk bergabung dengan Juventus dengan status bebas transfer setelah kontraknya berakhir dengan Rossoneri. Selama di Milan, Regista yang legendaris memenangkan dua Liga Champions, dua Scudetto, satu Piala Dunia Klub, satu Coppa Italia, dua Piala Super Eropa, dan satu Piala Super Italia, dengan 41 gol dalam 401 pertandingan.

Juventus dan Kebangkitan Pirlo

Sejak pindah ke Juventus, Pirlo telah mengalami kebangkitan. Kariernya meningkat tajam. Kemampuan untuk beradaptasi sambil mempertahankan gaya yang berbeda, telah membuatnya menjadi pasangan yang sangat baik dengan beberapa gelandang bertahan terbaik dunia. Pirlo telah memperkuat status legendarisnya. Empat musim yang mengagumkan bersama Bianconeri. Ia kemudian menuju ke New York City FC dan mengakhiri karier gemilangnya pada 2017. Meskipun relatif lambat, kekuatannya terletak pada kemampuannya untuk mengatur irama dan tempo permainan. Seperti sebuah metronome.