Tanpa Pressing Tinggi, Real Madrid Bakal Babak Belur Oleh Barcelona

Jurnal Bola – Gol pertama Shakhtar Donetsk di ajang Liga Champions adalah contoh bahwa tanpa kemampuan melakukan pressing tinggi di lapangan tengah, Real Madrid akan dicabik-cabik oleh Barcelona pada El Clasico, Sabtu (24/10).

Pada menit ke-28, para pemain lapis kedua Shakhtar mulai membangun serangan dari setengah lapangan mereka, terus maju mendorong bola dengan melibatkan enam pemain, menyelesaikan 23 umpan, sebelum akhirnya berakhir dengan tembakan Tete yang merobek gawang Thibaut Courtois.

Para pemain tim Ukraina itu mampu menyelesaikan 23 umpan dan gol pembuka mereka dengan cara yang sangat mudah, tanpa keahlian hebat atau kemampuan khusus, membangun serangan tanpa halangan karena minimnya tekanan yang diberikan para pemain Los Merengues.

Luka Jovic bengong, Rodrygo hanya melihat saja, Fede Valverde tak menunjukkan intensitas seperti biasanya, Casemiro frustrasi, Eder Militao entah jalan-jalan ke mana, Raphael Varane bak kapal karam, sementara Marcelo, ah berbicara soal kemampuan defensif bek Brasil ini sekarang adalah bak sebuah lelucon.

Berita Bola Terbaru:

Advertisement

Untuk Luka Jovic, dia mendapatkan posisi starter karena dukungan fans. Tapi faktanya dia sama sekali tak berguna, gagal mencetak gol, tidak berpartisipasi dalam serangan, dan dia tidak menekan saat timnya diserang. Lantas apa yang dilakukan Luka Jovic?

Real Madrid telah kalah dua kali berturut-turut, oleh Cadiz di ajang Liga Spanyol dan oleh Shakhtar, karena mereka lupa bagaimana cara menekan. Tanpa bermain menekan dengan intensitas tinggi untuk merebut bola dan berlari, mereka adalah tim yang mudah dikalahkan.

Laga lawan Shakhtar Donetsk memberi pelajaran penting. Duet Brasil Eder Militao dan Marcelo perlu menekan hasrat menyerang untuk lebih fokus pada pekerjaan defensif. Varane sekali lagi menunjukkan bahwa dia terlihat seperti anak yatim piatu tanpa Sergio Ramos di sisinya, sosok kapten yang selalu menginspirasi rekan-rekannya untuk berani bertarung dan berlari mengejar bola seperti ayam tanpa kepala. Ingat gelar juara Liga Spanyol musim lalu direbut karena kekuatan pertahanan.

Sekarang masih harus dilihat apakah Zinedine Zidane akan mampu menyelesaikan masalah timnya, soal intensitas pada permainan, soliditas dalam pertahanan, hasrat dan ketajaman yang lebih besar di depan gawang, dan meningkatkan kepercayaan diri para pemainnya.

Tanpa Cristiano Ronaldo, sang manajer Perancis itu seperti senjata tanpa peluru, dan sementara reparasi lini depan dengan mendatangkan penyerang baru sekaliber Kylian Mbappe masih menunggu hingga musim depan, Real Madrid harus mengembalikan soliditas pertahanan mereka, atau mereka bisa melihat skor 5-0 atau 6-2 terulang kembali melawan Barcelona.

Liga Spanyol